← Kembali ke Profil
Sejarah Masjid
Masjid Al Ala Gianyar
RISALAH SEJARAH ISLAM DI KABUPATEN GIANYAR
Dari Masa Kerajaan hingga Era Modern: Jejak Akulturasi dan Perjuangan
Perkembangan Islam di Kabupaten Gianyar, Bali, bukan sekadar fenomena pendatang di masa modern. Sejarahnya membentang jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, berakar pada hubungan harmonis antara institusi kerajaan (Puri) dengan umat Muslim yang datang melalui jalur perdagangan, militer, dan pengabdian.
I. Akar Sejarah: Kedatangan Islam di Bali
Secara garis besar, kehadiran Islam di Pulau Dewata memiliki beberapa versi historis yang saling melengkapi:
Abad ke-XIV (Era Gelgel): Versi paling populer menyebutkan bahwa saat Dalem Ketut Ngelesir (Raja Gelgel) mengunjungi Keraton Majapahit, beliau pulang membawa 40 orang pengiring Muslim yang kemudian menetap dan membangun komunitas di Gelgel.
Jalur Militer & Perdagangan: Islam masuk melalui pengaruh Bugis di Serangan dan Buleleng, serta pengaruh Melayu di Jembrana. Jejak ini membentuk pola pemukiman Muslim di pesisir yang biasanya menjadi pelabuhan penting bagi kerajaan-kerajaan Bali.
II. Titik Mula Islam di Kabupaten Gianyar
Di Kabupaten Gianyar sendiri, jejak awal penyebaran Islam terbagi dalam tiga klaster utama yang masing-masing memiliki latar belakang unik:
1. Kampung Islam Sindu Keramas (1856 M)
Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1856, Ida I Gusti Agung Made Moning kembali ke Keramas, Blahbatuh, setelah masa pengasingan di Selong, Lombok. Beliau tidak datang sendiri, melainkan membawa para pengabdi setia yang beragama Islam. Para tokoh perintis (Panglisir) tersebut berjumlah enam orang: Pekak Rajinah, Pekak Rajab, Pekak Lecir, Pekak Kadun, Pekak Jarum, dan Pekak Mudin. Oleh pihak Puri Keramas, mereka ditempatkan di wilayah panepi siring (pinggiran desa) yang berfungsi sebagai benteng pertahanan. Kelak, wilayah ini dikenal sebagai Kampung Sindu.
2. Misteri Makam Kuno di Tegal Tugu dan Banjar Sangging
Jauh sebelum kemerdekaan, terdapat dua situs makam Muslim yang menjadi bukti kehadiran tokoh Islam di jantung kota Gianyar. Meski bukti autentik tertulis masih minim, tradisi lisan warga menyebutkan:
Sosok Syeikh Hasan Al-Bantani: Salah satu makam diyakini milik ulama asal Banten.
Kisah Musafir Tragis: Terdapat narasi tentang sepasang musafir (suami-istri) yang mengalami salah paham dengan warga setempat saat sedang sholat. Sang istri dimakamkan di Banjar Sangging, sedangkan sang suami dimakamkan di Tegal Tugu.
Fenomena Spiritual: Warga lokal secara turun-temurun mengisahkan fenomena cahaya bulat yang sering terlihat berpindah di antara kedua makam ini pada malam-malam tertentu, yang semakin menguatkan status keramat kedua makam tersebut bagi warga setempat.
3. Masjid Al-Abror dan Persekutuan Bugis-Ubud (1874 M)
Di Pantai Pabean, Ketewel, pernah berdiri pelabuhan tradisional yang ramai dikunjungi pedagang dan nelayan Bugis. Berdasarkan riwayat dari Alm. Cokorda Oka (Puri Kantor Ubud), pada tahun 1874, Raja Ubud mengajak para pelaut Bugis ini bekerja sama untuk melawan kolonial Belanda. Berkat bantuan strategis dan keberanian para pejuang Bugis, Kerajaan Ubud meraih kemenangan gemilang. Sebagai balas jasa, mereka diberikan hak tinggal di Pantai Pabean. Di sanalah dibangun Masjid Al-Abror, sebuah masjid yang kini terdaftar sebagai Masjid Bersejarah dalam sistem Kemenag RI.
III. Dinamika Paska-Kemerdekaan (1940 - 1960)
Setelah Indonesia merdeka, denyut kehidupan Muslim di pusat kota Gianyar mulai terorganisir.
1940-an: Tokoh seperti H. Madrawi dan Bapak Awi mulai masuk ke Gianyar namun belum menetap secara permanen.
1950-an: Mulai terbentuk koloni kecil yang terdiri dari 6 Kepala Keluarga (KK), di antaranya: H. Madrawi, H.M. Poliman, H. Saifuddin Kamaruddin Lukmanji, Bapak Niman, Bapak Nizan, dan Bapak Awi.
Hak Guna Pakai: Pihak Puri Gianyar memberikan izin kepada umat Muslim untuk menggunakan lahan di Lingkungan Pasdalem (kini lokasi TK Kerta Kumara) sebagai tempat tinggal dan pusat ibadah. Di sana, pada tahun 1954, berdiri sebuah musholla pertama di tengah kota.
IV. Transformasi Masjid Agung Al-A’la Kabupaten Gianyar
Berdirinya masjid ini adalah simbol sinergi antara pemerintah daerah (Puri/Bupati) dan umat Islam.
1. Proses Tukar Guling Lahan
Awalnya, Bupati Made Kembar Krepun mewakafkan lahan di Desa Serongga. Namun, karena lokasi tersebut jauh dari pemukiman Muslim yang saat itu berpusat di kota, panitia (yang dipimpin tokoh NU dan Muhammadiyah) memohon tukar guling lahan ke lokasi saat ini (di depan Markas Yonzipur 18/YKR) agar lebih strategis bagi jemaah sipil dan TNI.
2. Kronologi Pembangunan
1967: Peletakan batu pertama Masjid Jami’ Al-A’la di atas lahan ± 8 are. Arsiteknya adalah Raden Su’ud.
1969: Pembangunan fisik rampung (bangunan awal hanya 1/3 dari luas sekarang).
1992: Masjid mengalami perluasan serambi depan dan statusnya dinaikkan menjadi Masjid Agung Al-A’la Kabupaten Gianyar.
1996 - 2003 (Renovasi Total): Di bawah naungan Bupati Tjokorda Gde Budi Suryawan, SH, masjid direnovasi besar-besaran menjadi bangunan megah dua lantai dengan dua kubah besar, namun tetap mempertahankan ciri khas atap tumpang dua sebagai bentuk penghormatan pada arsitektur lokal.
V. Urusan Pekuburan dan Duka (URPUD)
Pada 17 Mei 1973, sebuah tonggak sejarah penting terjadi di Kantor Camat Gianyar. Pihak Puri Gianyar mewakafkan tanah untuk Tempat Pemakaman Muslim di Kelurahan Beng. Acara ini dihadiri oleh 17 Bendesa Adat sebagai bentuk pengakuan dan harmoni lintas agama. Lembaga yang mengelolanya dikenal sebagai URPUD, dengan Bapak Misken sebagai ketua pertamanya.
VI. Perkembangan Pendidikan dan Fasilitas Ibadah Kini
Gianyar kini berkembang menjadi daerah dengan fasilitas keislaman yang sangat memadai:
Lembaga Pendidikan Utama:
Madrasah Al-Ittihad (1969): Merupakan cikal bakal pendidikan Islam di Gianyar.
YAPPENATIM (Yayasan Penolong Pendidikan Anak Yatim dan Miskin): Lembaga formal pertama yang mengelola pendidikan anak yatim.
Modernitas: Munculnya RA/TK IPHI, MI Harapan Bunda, hingga MTs Murobbi (2024) yang memberikan akses pendidikan Islam formal lebih tinggi.
Pusat Ibadah Tersebar:
Kini terdapat puluhan masjid dan musholla yang tersebar, di antaranya:
Pusat Kota: Masjid Agung Al-A’la, Musholla Nurul Hikmah Pasdalem, Musholla Muallifin Samplangan.
Pesisir & Selatan: Masjid Al-Abror Ketewel, Masjid Darul Hijrah Keramas, Masjid Candra Asri Batubulan.
Fasilitas Publik: Musholla di RSUD Sanjiwani, RSU Payangan, Mall Pelayanan Publik, hingga SPBU di jalur utama.
VII. Penutup: Warisan Nilai
Sejarah Islam di Gianyar bukan hanya tentang bangunan, melainkan tentang "Menyama Braya" (persaudaraan). Dari pemberian wakaf lahan oleh Puri hingga dukungan para Bendesa Adat untuk pemakaman Muslim, Islam di Gianyar tumbuh dengan identitas yang kuat namun tetap selaras dengan budaya Bali.
Artikel ini disusun oleh Agus Suryadi, S.S. sebagai upaya menjaga api sejarah agar generasi penerus di "Kota Seni" ini tidak lupa akan akar perjuangan para pendahulunya.
source : https://masjidagunggianyar.blogspot.com/